Jika Anda ingin mengolah makanan pendamping ASI (MPASI) tentu akan memperhatikan kandungan nutrisi di dalamnya. Tak hanya karbohidrat, vitamin, protein, dan mineral saja, bayi juga membutuhkan lemak untuk melengkapi MPASI. Mungkin banyak yang ingin tahu sumber lemak tambahan MPASI terbaik untuk bayi. Bagi yang memerlukan informasi tersebut, di artikel ini kami akan membahasnya. Sebenarnya lemak di MPASI digunakan untuk apa? Nah, pada dasarnya, lemak dibutuhkan untuk mendorong pertumbuhan tubuh serta otak anak agar optimal. Lemak yang cukup juga mengoptimalkan penyerapan vitamin supaya larut lemak serta meningkatkan energi tubuh. Pilihan Sumber Lemak Tambahan MPASI Untuk Bayi Sebenarnya tidak ada ketentuan khusus mengenai jenis lemak seperti apa yang perlu ditambahkan di MPASI. Yang paling penting, mudah didapat di sekitar Anda. Bahan seperti keju, ikan, telur, daging, sampai buah alpukat bisa menjadi sumber lemak terbaik. Sebagai sumber lemak tambahan, gunakan beberapa makanan berikut : Margarin Margarin merupakan bahan makanan dari minyak nabati atau yang sering disebut minyak kelapa sawit. Tak heran jika margarin punya kandungan lemak tak jenuh yang bagus untuk kesehatan, termasuk untuk bayi. Margarin memiliki tekstur yang lebih padat. Hal tersebut membuatnya lebih gampang meleleh. Moms bisa memberi margarin untuk sumber lemak tambahan MPASI disamping mengolah makanan seperti daging sapi, telur, ikan dan daging ayam. Baca juga: Mengenal Oleoresin Paprika yang Bikin Aroma Semakin Menggiurkan Mentega Banyak yang menyebut jika mentega dan margarin sama karena tampaknya memang sama. Tidak heran jika banyak yang kesulitan untuk membedakan dua sumber lemak tambahan untuk MPASI ini. Padahal jika diperhatikan dengan saksama, mentega ( butter ) memiliki tekstur yang tidak serapat margarin. Mentega berbahan lemak hewani sehingga kandungan lemak jenuhnya lebih sedikit dibanding margarin. Santan Sumber lemak tambahan MPASI selanjutnya adalah santan. Memberi santan pada bayi sangat diperbolehkan jika usia anak sudah lebih dari 6 bulan atau sedang belajar makan MPASI. Santan memiliki kandungan lemak hingga 34 gram sehingga menjadi pilihan tepat jika diolah menjadi sumber lemak MPASI bayi. Kandungan gizi di dalamnya juga bagus. Dari harga juga tergolong murah dan mudah ditemukan. Minyak kelapa Sama halnya dengan mentega, minyak kelapa dibedakan menjadi 2 jenis. Diantaranya minyak kelapa biasa atau yang disebut refined coconut oil serta minyak kelapa murni atau virgin coconut oil atau VCO. Untuk minyak kelapa biasa dibuat dari daging kelapa yang telah dikeringkan. Selanjutnya diambil bagian minyaknya. Sedangkan minyak kelapa murni (VCO) dipilih dari kelapa segar. Mana yang paling bagus? Moms tidak perlu ragu jika ingin memberi minyak kelapa biasa atau minyak kelapa murni (VCO) untuk sang buah hati. Kedua jenis minyak kelapa tadi bagus dan bisa menjadi sumber lemak tambahan MPASI terbaik untuk sang buah hati. Hanya saja perhatikan cara mengolahnya supaya kandungan gizi didalamnya tidak berkurang. Minyak zaitun Selanjutnya ada minyak zaitun yang bisa dijadikan sebagai sumber lemak tambahan terbaik untuk MPASI anak. Sesuai namanya, minyak zaitun berbahan dasar sari buah zaitun. Yang selanjutnya diperas sehingga ada minyak dari perasan tersebut. Minyak zaitun yang juga dikenal sebagai olive oil ini menjadi sumber asam lemak tidak jenuh tunggal terbaik. Baca juga: Mengenal Pengawet dan Kadar Pengawet yang Diperbolehkan Inilah alasan kenapa minyak zaitun bisa menjadi pilihan terbaik untuk sumber lemak MPASI. Itu tadi sumber lemak tambahan MPASI yang bisa dicoba diberikan untuk buah hati. Jika Anda membutuhkan sumber lemak MPASI yang sehat, maka pastikan memilih produsen bahan pangan yang terpercaya. Salah satunya adalah Global Solusi Ingredia. Tak hanya menyediakan berbagai jenis lemak dan minyak, di GSI juga tersedia beragam bahan lainnya seperti vitamin, antimicrobial, pewarna makanan, pengawet makanan, dan masih banyak lagi. Segera beralih dengan menggunakan produk makanan berkualitas dari GSI!
Oleoresin paprika merupakan campuran antara minyak atsiri dan resin yang biasanya punya aroma dan pembawa yang tidak gampang menguap. Oleoresin memiliki kumpulan senyawa kimia yang lumayan komplek. Oleoresin biasanya berwujud cairan kental dengan kadar minyak atsiri 15% hingga 35%. Ada peneliti yang menyebutkan bahwa oleoresin adalah hasil ekstraksi rempah yang mengandung komponen utama pembentuk perisa, diantaranya seperti zat volatil (minyak atsiri) serta non-volatil (resin dan gum). Setiap komponen di atas punya peran untuk menentukan aroma serta rasa. Sebab, oleoresin berasal dari kata “oleo” yang artinya minyak. Sedangkan resin” yang artinya damar. Yang selanjutnya oleoresin juga bisa disebabkan sebagai minyak damar. Komponen kimia yang dari oleoresin adalah unsur Karbon (C), Hidrogen (H), dan juga Oksigen (O). Inilah Faktor Yang Menentukan Ekstraksi Oleoresin Paprika Dalam ekstraksi oleoresin, ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Berikut beberapa faktor yang kami maksud : Perlakuan pendahuluan Pertama adalah persiapan bahan tumbuhan sebelum melakukan ekstraksi. Ada banyak teknik untuk mengoptimalkan rasa bahan tumbuhan. Setidaknya ada dua yang sangat mempengaruhi ekstraksi oleoresin yakni pengeringan serta grinding. Baca juga: Mengenal Pengawet dan Kadar Pengawet yang Diperbolehkan Pengeringan adalah proses untuk menghilangkan sebagian besar air di dalam bahan. Di mana dengan pengeringan tersebut, semua bahan yang dibutuhkan bisa diproses sedemikian rupa dengan baik. Berbeda dengan grinding, ini adalah proses untuk mengurangi ukuran partikel sehingga mampu meningkatkan luas permukaan serta menambah penetrasi pelarut supaya lebih baik. Pelarut yang digunakan Ekstraksi oleoresin paprika dengan pelarut biasanya dipengaruhi jenis dan polaritas pelarut yang dipakai. Pelarut non polar bisa mengekstrak komponen volatile serta pelarut polar merupakan pelarut untuk mengekstrak oleoresin. Evania (2019) menyebutkan bahwa senyawa kimia di dalam bahan yang digunakan akan gampang larut di pelarut yang sama polaritasnya dengan bahan yang nantinya akan dilarutkan. Dari pendapat tersebut dapat diasumsikan jika senyawa lebih gampang terlarut di dalam pelarut yang mempunyai polaritas yang tidak jauh beda. Ukuran Partikel Umumnya kehalusan partikel yang sesuai biasanya menghasilkan ekstraksi yang jauh lebih efektif sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama. Sayangnya jika ukuran partikelnya terlalu halus membuat volatile oil menjadi hilang ketika penggilingan. Operasi ekstraksi oleoresin solid-liquid dapat berjalan lancar bila diameter partikelnya diperkecil. Pengecilan ukuran tersebut akan memperluas kontak yang digunakan dengan permukaan. Hal tersebut membuat hambatan difusi jauh lebih kecil serta mengikat laju difusi yang ada didalamnya. Adapun tujuan utama pengecilan ukuran adalah untuk menghancurkan matriks inert pengotor. Suhu yang digunakan untuk ekstraksi Suhu juga sangat mempengaruhi oleoresin yang bakal Anda lakukan. Sudah pasti suhu yang kurang pas sangat mempengaruhi tidak rendemen oleoresin yang akan dilakukan. Penggunaan suhu ekstraksi yang lumayan tinggi juga akan menghasilkan rendemen oleoresin yang tinggi hingga batas tertentu yang kita tidak ketahui. Baca juga: Ciri Adonan Donat dengan Emulsifier yang Siap Goreng Suhu yang tinggi juga menyebabkan banyaknya panas yang diterima bahan untuk mengekstrak oleoresin sehingga membuatnya mempengaruhi hasil yang diberikan oleoresin. Pada berbagai pengalaman dan penelitian yang sudah dilakukan, suhu 40 derajat celcius adalah suhu optimum terbaik yang memberi konsentrasi oleoresin paling bagus dibanding suhu lainnya. Bagi yang membutuhkan produk oleoresin paprika resmi dan berkualitas, silahkan cek di Global Solusi Ingredia. Produk di sini sangat lengkap terutama untuk bahan pangan utama maupun tambahan. Soal kualitas juga tidak perlu ditanya karena bagus dan aman di kelasnya.
Pengawet termasuk bahan tambahan pangan yang boleh digunakan, asalkan sesuai kadar pengawet yang diperbolehkan dan khusus makanan ( food grade) . Kebanyakan seseorang menggunakan bahan pengawet untuk bisa menjadikan sebuah makanan lebih tahan lama dan tidak mudah basi. Untuk penjelasan lebih lengkap dan jelas, simak ulasan berikut. Definisi Pengawet Makanan Bahan pengawet tergolong ke dalam zat aditif yang membuat masa pemakaian suatu produk lebih lama. Pengawet dapat membantu mencegah makanan agar tidak cepat busuk, sehingga mampu menjaga kesegarannya. Akan tetapi di dalam penggunaannya harus disertai batasan kadar pengawet yang diperbolehkan. Pengawet juga bisa digunakan sebagai bagian penambah cita rasa makanan, bahkan beberapa bahan pengawet tertentu bisa menjaga rasa makanan ketika dipanggang. Baca juga: MengenaI Pangan Fungsional yang Baik dalam Industri Bahan Pangan Apakah Pengawet Makanan Aman? Sebenarnya, pengawet buatan maupun sintetis yang tercantum dalam BPOM, termasuk aman digunakan dan tidak membahayakan tubuh. Pada dasarnya, terdapat beberapa peraturan mengenai jumlah asupan harian bahan pengawet atau acceptable daily intake (ADI). Hal ini bertujuan agar tidak berdampak buruk terhadap kesehatan seseorang yang mengonsumsinya. Ketentuan ini tertuang di dalam peraturan kepala BPOM nomor 36 tahun 2013, mengenai jumlah maksimum bahan pengawet yang bisa dikonsumsi. Bahan Pengawet Makanan Alami Pengawetan makanan menjadi salah satu teknologi pangan tertua yang mengombinasikan penggunaan bahan alami dengan beberapa teknik. Adapun, teknik yang digunakan seperti pendinginan, pengeringan dan pembekuan. Contoh bahan alami yang digunakan untuk mengawetkan makanan diantaranya yaitu garam, bawang putih, jus lemon, gula, dan cuka. Bahan Pengawet Makanan Buatan Pengawet makanan sintetis umumnya dikembangkan oleh manusia. Jenis-jenis bahan pengawet buatan yang aman juga telah diatur dalam peraturan kepala BPOM nomor 36 tahun 2013. Beberapa bahan kimia yang tergolong aman sebagai pengawet makanan menurut BPOM yaitu asam sorbat, asam benzoat, asam propionat. Bahan lainnya adalah sulfit, nitrit dan nitrat, serta nisin. Batas Pengawet pada Kecap dan Saus Peraturan menteri kesehatan nomor 722 tahun 1988 menjelaskan bahwa pengawet pada saus tomat maupun sambal hanya satu gram per satu kilogram. Sementara, kadar pengawet pada kecap yaitu 0,6 gram pada setiap satu kilogram kecap, agar tidak memicu penyakit ketika dikonsumsi. Apakah Bahan Pengawet Makanan Memiliki Efek Samping? Menurut U.S Food and Drug Administration (FDA), mengonsumsi pengawet buatan dengan jumlah kecil masih dirasa cukup aman. Tetapi, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa mengonsumsi makanan berpengawet secara berlebihan bisa menimbulkan efek samping. Misalnya, perpaduan natrium benzoat dengan pewarna yang terkandung dalam makanan bisa membuat anak yang mengalami ADHD, lebih hiperaktif. Bahkan, suatu penelitian pada jurnal Nutrients mengungkapkan asupan daging olahan yang memiliki nitrit, bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal. Tetapi, perlu ada studi lebih lanjut, agar dapat mengetahui hubungan konsumsi daging mengandung nitrit dengan risiko kanker kolorektal. Cara Mencegah Bahaya dari Makanan Berpengawet Meskipun, kadar pengawet yang diperbolehkan telah ditetapkan, Anda tetap bisa mencegah risiko dari makanan berpengawet. Cara yang pertama yaitu dengan berbelanja serta memasak makanan dari bahan segar, seperti susu, sayur buah, telur, ikan segar dan sebagainya. Baca juga: Ciri Adonan Donat dengan Emulsifier yang Siap Goreng Selain itu, mengurangi konsumsi makanan olahan dan membaca label komposisi serta informasi nilai gizi pada makanan maupun minuman kemasan. Anda bisa beralih ke makanan organik, dengan zat aditif dan pestisida lebih minim. Meskipun, kadar pengawet yang diperbolehkan sudah ditetapkan oleh pemerintah, akan tetapi Anda tetap perlu bijak dalam memilih pemasok bahan makanan berpengawet. Untuk terhindar dari produsen bahan pangan nakal, Anda bisa memasok bahan berkualitas dari Global Solusi Ingredia. Tentunya, bahan pangan tambahan dari GSI sudah mengantongi izin BPOM RI dan juga sertifikat halal dari MUI. GSI telah terpercaya sejak lama menjadi supplier bahan pangan di dunia Internasional. Yuk, percayakan juga pengawet dan bahan lainnya pada GSI.
Emulsifier adalah salah satu bahan yang tidak asing sebagai pelengkap dalam pembuatan kue. Bahan ini mempunyai peran sebagai zat pengemulsi yang menjaga kestabilan emulsi minyak dan air. Apa itu emulsifier dan fungsinya untuk donat? Simak pembahasannya sebagai berikut. Definisi Emulsifier Emulsifier adalah kata yang bermakna pengemulsi serta berperan penting dalam adonan kue, karena bisa menyatukan minyak dan air. Jika donat yang Anda buat ditambahkan dengan emulsifier, maka komponen bahan air dan lemak bisa menyatu. Bagaimana Cara Kerja Emulsifier? Ahli pangan berpendapat bahwa emulsifier mempunyai kecenderungan hidrofilik dan lipofilik, sehingga air dan lemak dapat menyatu pada waktu yang sama. Ada beberapa manfaat bagi adonan donat, jika minyak dan air bisa tercampur, contohnya yakni dapat menjaga kualitas dan kesegaran donat. Baca juga: MengenaI Pangan Fungsional yang Baik dalam Industri Bahan Pangan Emulsifier juga menjaga kesatuan bahan makanan yang terpanggang dengan meningkatkan interaksi dua elemen atau lebih. Emulsifier sendiri bisa diperoleh secara alami dari kuning telur. Jadi, adonan dasar donat tidak perlu ditambahkan emulsifier apabila sudah menggunakan telur untuk bahan utama. Hal ini disebabkan karena, kuning telur memiliki kandungan lesitin yang berperan sebagai emulsifier. Fungsi Emulsifier pada Donat Emulsifier bisa menyatukan interaksi rumit pada cokelat, tepung, telur, minyak, gula dan bahan lainnya. Jika bahan-bahan tersebut tercampur, maka akan tercipta stabilitas dan keseragaman dalam adonan. Jika aerasi dan retensi air seragam, maka hasil donat menjadi lebih maksimal. Emulsifier juga mampu untuk membantu meningkatkan kualitas donat, dengan tekstur lembut dan masa penyimpanan kue lebih lama. Adonan Donat Beku Siap Digoreng Jika Anda memiliki adonan donat yang tidak langsung digoreng, maka bisa menyimpannya terlebih dahulu dengan cara dibekukan. Adonan donat beragi yang akan dibekukan, bisa dicetak dan dibentuk terlebih dahulu, biarkan mengembang, kemudian bekukan. Anda bisa meletakkan adonan di atas loyang yang terlapisi kertas roti, kemudian bekukan hingga padat. Selanjutnya, donat dipindahkan ke kantong plastik, lalu letakkan dalam freezer . Ketika adonan akan digoreng, Anda bisa membiarkannya dahulu pada suhu ruangan. Cara penyimpanan ini berlaku juga bagi donat yang telah matang. Bagian Lubang lebih Besar Dibandingkan Bentuk Donat Hal ini dilakukan dengan tujuan membuat donat lebih cepat matang secara merata, usahakan tidak menggunakan api yang terlalu besar. Jika ukuran donat yang digoreng semakin besar, maka api yang digunakan juga semakin kecil. Perhatikan Fermentasi Donat Fermentasi bisa mempengaruhi keberhasilan donat, Anda bisa memasukkan adonan donat dalam mangkuk yang sudah terolesi minyak. Kemudian tutup mangkuk dengan plastik wrap yang juga diolesi minyak. Adonan yang sudah ditutupi itu, bisa Anda masukan ke kulkas sekitar 15 jam atau sepanjang malam. Fermentasi dengan durasi waktu yang lama dan dilakukan pada suhu dingin, dapat membantu donat akan mengembang dengan sempurna. Memperhatikan Suhu Minyak untuk Menghasilkan Donat yang Menarik Pada dasarnya emulsifier adalah pengemulsi yang digunakan untuk membuat hasil gorengan adonan donat menjadi lebih bagus. Baca juga: Perbedaan Industri Minyak Goreng dengan Minyak Kelapa Dengan demikian perlu untuk memastikan bahwa donat tidak digoreng dalam minyak yang memiliki suhu terlalu tinggi. Hal ini bertujuan agar tidak terlalu mengembang, yang menyebabkannya donat menjadi pecah. Setelah membahas emulsifier adalah pengemulsi, namun penggunaan bahan ini cenderung bervariasi, tergantung formulasi resep. Ciptakan donat empuk dan mengembang dengan emulsifier berkualitas dari Global Solusi Ingredia. GSI merupakan perusahaan bahan pangan yang menyediakan emulsifier berkualitas serta berbagai macam bahan seperti pewarna, antimikroba, vitamin, dan masih banyak lagi. Semua bahan tersebut sudah teruji aman karena mengantongi izin BPOM RI dan dijamin halal.
Pangan fungsional merupakan istilah yang tidak asing dalam industri bahan pangan. Hal ini dikarenakan sangat banyaknya industri pangan yang telah mengembangkannya. Bahkan, pengembangan pangan fungsional turut didukung oleh pemerintah dengan mensosialisasikannya sampai ke daerah, namun seperti apa pangan fungsional itu? Berikut ini pembahasan lebih jelasnya. Pengertian Pangan Fungsional Pangan fungsional merupakan makanan bergizi yang mempunyai dampak positif bagi kesehatan tubuh. Hali ini terjadi karena komponen dalam pangan fungsional memiliki aktivitas fisiologis yang sangat baik bagi kesehatan tubuh. Kesadaran masyarakat terhadap makanan sehat, membuat banyak industri bahan pangan memanfaatkan peluang untuk mengembangkan pangan fungsional. Awalnya, istilah ini muncul dari negeri Sakura dengan nama Food for Specified of Health Use (FOSHU) di tahun 1980. Jenis Pangan Fungsional Berdasarkan jenisnya, pangan fungsional ini terbagi menjadi tiga bagian yaitu sumber makanan, cara pengolahan dan kandungan gizi. Pangan fungsional berdasarkan sumber makanan memiliki dua golongan yaitu nabati dan hewani. Baca juga: Perbedaan Industri Minyak Goreng dengan Minyak Kelapa Sementara, aspek cara pengolahan terbagi menjadi tiga yaitu pangan fungsional alami, tradisional dan modern. Adapun, contoh kandungan gizi seperti macam-macam vitamin, mineral dan serat pangan. Kriteria Pangan Fungsional Sensory menjadi kriteria pertama dari pangan fungsional warna akan penampilannya yang menarik, serta bercita rasa lezat. Kedua, nutritional yaitu pangan fungsional yang memiliki nilai gizi tinggi. Kemudian physiological yaitu salah satu kriteria pangan fungsional yang memiliki pengaruh fisiologis dengan berbagai kandungan yang baik untuk tubuh. Intinya, pangan fungsional merupakan makanan yang bisa menjadi bagian dari makanan sehari-hari dan memiliki fungsi tertentu. Dengan demikian, pangan ini tidak berupa kapsul, tablet maupun powder. Fungsi Pangan Fungsional Pangan fungsional memiliki beberapa fungsi fisiologis seperti mencegah datangnya penyakit, meningkatkan daya tahan tubuh serta menghambat proses penuaan. Di samping itu, fungsi lainnya yang dimiliki yakni mampu untuk me- recovery atau menyehatkan kembali dan regulasi keadaan ritme fisik tubuh. Contoh Pangan Fungsional Pangan fungsional terdiri dari alami, tradisional dan modern. Contoh pangan fungsional alami adalah buah dan sayuran segar yang bisa dikonsumsi langsung. Sementara yang tradisional seperti yoghurt , tempe, teh, susu, beras merah dan dadih. Pangan fungsional modern seperti biskuit berserat pangan, mi instan yang diperkaya vitamin dan mineral, minuman isotonik dengan keseimbangan mineral. Syarat Pangan Fungsional di Jepang Kriteria pangan fungsional di Jepang yang pertama, terdapat bukti empiris lewat penelitian yang mengungkapkan makanan terkait berpengaruh bagi kesehatan. Kedua, makanan bisa meningkatkan fungsi diet dan fungsi kesehatan. Pangan terkait telah memperoleh persetujuan dari ahli gizi maupun kesehatan, selain itu, kandungan dalam pangan harus seimbang dan aman. Komposisi pangan dipaparkan karakteristiknya baik fisik atau sifat kimia, secara kualitatif maupun kuantitatif. Komposisi pangan fungsional tidak boleh menjadikan nilai gizi pangan terkait menurun. Selain itu, pangan fungsional harus dikonsumsi secara normal, dan fisiknya bukan berupa tablet, kapsul dan serbuk. Terakhir, komposisi yang terkandung dalam pangan fungsional harus dari komponen alami. Baca juga: Daftar Bahan Makanan MPASI Bayi Terbaik Pihak yang Mengonsumsi Pangan Fungsional Sebenarnya, pangan fungsional tidak hanya dikonsumsi kalangan tertentu, tetapi dapat pula dikonsumsi berbagai golongan secara luas. Apalagi, saat ini industri bahan pangan telah menciptakan berbagai produk dari pangan fungsional. Dengan demikian pangan fungsional memiliki khasiat yang sangat bermanfaat bagi tubuh, tidak heran jika banyak industri bahan pangan yang mengembangkannya. Untuk menciptakan produk pangan fungsional yang berkualitas baik, Anda bisa mendapatkan bahan pangan fungsional tersebut PT Global Solusi Ingredia. Tersedia berbagai macam bahan pangan fungsional yang berkualitas baik dan mengantongi izin BPOM RI serta sertifikat halal dari MUI.
Dalam industri minyak goreng, bahan baku yang digunakan adalah kelapa sawit. Namun, banyak yang masih gagal paham bahwa minyak goreng dianggap sama dengan minyak kelapa. Padahal, keduanya memiliki perbedaan yang signifikan. Pada dasarnya, keduanya memang masih berasal dari satu famili kelapa. Akan tetapi, kandungan serta fungsi keduanya jelas jauh berbeda. Ingin tahu perbedaannya apa saja? Yuk, simak penjelasannya di bawah ini! 1. Perbedaan Aroma Ketika dipanaskan atau digunakan untuk memasak, maka aroma keduanya berbeda. Minyak kelapa cenderung beraroma harum serta gurih. Sehingga, proses memasak menggunakan minyak kelapa akan membuat hasil masakan jadi lebih lezat dan harum. Lain halnya dengan aroma minyak goreng yang cenderung hambar alias tidak ada aroma apapun. Baca juga: Daftar Bahan Makanan MPASI Bayi Terbaik 2. Kandungan yang Berbeda Pada industri minyak goreng, kandungan kalori di dalamnya cukup tinggi yakni sekitar 120 kalori untuk 1 sendok makan. Sedangkan pada minyak kelapa hanya 117 kalori saja untuk 1 sendok makan. Untuk kandungan asam lemak jenuhnya sendiri tak jauh beda yakni 85% untuk minyak kelapa dan 90% untuk minyak goreng. Perbedaan yang paling kentara ada pada kandungan lemak jenuh pada minyak kelapa atau VCO yang lebih mudah dicerna manusia. Selain itu, lemak jenuh pada minyak kelapa lebih mudah meningkatkan kadar HDL. Sehingga, jenis minyak yang lebih disarankan untuk konsumsi sehari-hari adalah minyak kelapa. Sebab, bisa membantu suplai energi ke otak Anda. 3. Bahan Baku Pembuatan Minyak goreng dibuat dengan kelapa sawit. Kemudian, biji kelapa sawit akan diekstraksi sampai berubah jadi larutan oranye pekat. Baru kemudian akan disuling. Lai halnya dengan minyak kelapa yang dibuat dari ekstrak daging buah kelapa. Setelah itu, akan disuling lalu diambil minyaknya. Selain daging buah kelapa, minyak kelapa juga bisa diambil dari santan kelapa yang diambil minyaknya. 4. Warna yang Berbeda Minyak kelapa ada yang berwarna kuning terang maupun transparan. Jika dibuat dengan cara ekstraksi daging buahnya maka warnanya kuning terang. Sedangkan warna transparan jika pembuatannya dari santan. Untuk minyak goreng sendiri, warnanya kuning keemasan. 5. Kegunaan Minyak kelapa memiliki kegunaan yang lebih kompleks ketimbang minyak sawit. Seperti untuk menumis bumbu maupun untuk dressing salad. Penggunaan minyak kelapa untuk dressing salad sangat sesuai dikarenakan tidak merusak tekstur dari salad itu sendiri. Selain itu, minyak kelapa juga kerap dipakai untuk obat ataupun perawatan kulit. Untuk minyak kelapa goreng sendiri mempunyai titik didih lebih tinggi. Jadi, saat diolah dengan api tinggi tidak merusakan minyak itu sendiri. Sehingga, cocok sekali untuk shallow frying maupun deep frying. Baca juga: Tips Membuat Roti Goreng Enak di Rumah Mana Jenis Minyak yang Lebih Sehat? Terkait dengan jenis minyak mana pada industri minyak goreng yang lebih sehat, maka jawabannya adalah minyak kelapa atau VCO ( Virgin Coconut Oil ). Pasalnya, pada minyak kelapa, terdapat lemak jenuh yang dapat meningkatkan kadar HDL atau kolesterol baik. Akan tetapi, harga minyak kelapa jauh lebih mahal dari minyak goreng. Sehingga, minyak kelapa tidak menjadi pilihan utama banyak orang. Nah, jika Anda membutuhkan produk minyak goreng yang berkualitas tinggi, maka percayakan pada Global Solusi Ingredia. Tak hanya menjadi salah satu industri minyak goreng terbaik di Indonesia, Malaysia, dan dunia internasional, GSI juga menawarkan minyak sayur yang bisa jadi alternatif penggunaan minyak yang lebih sehat. Produk minyak dan lemak dari GSI dapat diperuntukkan bagi pembuatan roti, cokelat, ataupun untuk gorengan apapun. Yuk, segera beralih ke produk-produk GSI untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ataupun untuk produksi makanan dalam skala besar.